Basarnas Terdepan dalam Membantu Musibah dan Bencana

Jakarta, (GNI)- Berbagai kegiatan akbar dihelat Badan SAR Nasional menjelang hari jadinya ke- 39. Diawali dengan pameran pertama tentang peralatan SAR di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, pada 16-19 Februari 2011. Pameran ini bertajuk ”Indonesia International Search And Rescue Expo (IISAREX) 2011”. Pameran yang diikuti oleh peserta dari dalam dan luar negeri ini bertujuan mensosialisasikan keberadaan Basarnas kepada masyarakat luas. Selain itu, IISAREX 2011 juga sebagai media untuk menciptakan kemitraan (partnership) Basarnas dengan para stake holder di bidang SAR. Event besar lainnya adalah 2nd Nasional SAR Challenge 2011. Uji kompetensi para rescuer dari 24 Kantor SAR se-Indonesia ini berlangsung di Golden Key, Bojonegara, Cilegon, Provinsi Banten, 21-23 Februari 2011. Ada lima tantangan yang harus dijalani tim rescuer yang berjumlah 8 personel dari masing-masing Kantor SAR tersebut.
Yakni, tes tertulis tentang pemahaman operasi SAR, keterampilan individu, SAR Plan (perencanaan SAR), operasi SAR di air, dan kemampuan fisik. Kegiatan lainnya, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada 24-26 Februari 2011. Rakernas ini diikuti seluruh Kepala Kantor SAR di Indonesia. Pembukaan acara dan hari pertama kegiatan ini berlangsung di Lantai 12 Gedung Basarnas. Hari berikutnya, berlangsung di Pulau Pantara Kepulauan Seribu. Dan puncaknya, upacara dan demonstrasi Operasi SAR di Pantai Marina Ancol Barat Jakarta Utara, Senin (28/02/2011). Upacara yang dihadiri seluruh pegawai di lingkungan Kantor Pusat Basarnas ini juga dihadiri jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para duta besar negara sahabat, pejabat tinggi di lingkungan TNI (AL, AD, dan AU), Polri, instansi pemerintah dan swasta serta para tamu undangan lainnya. Tema HUT kali ini, ”Dengan Semangat Pengabdian Bagi Kemanusiaan, Kita Wujudkan Basarnas Yang Handal, Profesional dan Responsif, Dalam Upaya Penyelamatan Jiwa Manusia Pada Berbagai Musibah dan Bencana’’.Dalam sambutannya, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) DR H R Agung Laksono selaku inspektur upacara memberikan apresiasi dan berharap Basarnas semakin meningkatkan komitmen terhadap pelayanan SAR kepada masyarakat secara profesional dengan terus mengasah kemampuan dan kompetensi yang dimilikinya. ’’Basarnas dituntut lebih efektif dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam mengemban tugas kemanusiaan sebagai penunjang kegiatan pembangunan khususnya di sektor keselamatan,’’ tegasnya. Menkokesra menambahkan, Basarnas juga perlu meningkatkan kemampuan, pemanfaatan, dan pemeliharaan peralatan SAR secara maksimal dan efisien untuk mendukung kinerja Basarnas. Namun tetap harus hemat anggaran. Basarnas saat ini dipimpin Letjen TNI (Marinir) Nono Sampono, SPi, MSi. Basarnas memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para rescuer Basarnas, latihan bersama dengan potensi SAR, mentransfer ilmu SAR yang dimiliki kepada para stake holder dan menjalin kerjasama di bidang SAR dengan negara-negara lain seperti Amerika, Australia, Jepang, Singapura dan sebagainya.
’’Basarnas harus mampu memberikan pelayanan yang prima, baik kepada masyarakat nasional maupun international,’’ tegasnya. Seperti diketahui, musibah dan bencana tidak bisa dideteksi sebelumnya (unpredictable). Musibah dan bencana itu datang tiba-tiba dan hampir selalu merenggut jiwa. Tidak hanya itu, eskalasi musibah di bidang penerbangan maupun pelayaran juga terus meningkat seiring dengan kemajuan jaman. Apalagi, negara Indonesia adalah negara kepulauan. Sarana transportasi laut maupun udara semakin padat. ”Basarnas tidak bisa bekerja sendirian, Basarnas dibantu oleh potensi SAR dan masyarakat. Karena itulah, masyarakat harus memahami SAR secara komprehensif, sehingga mereka siap ketika menghadapi situasi yang ekstrem saat terjadi musibah maupun bencana,” terangnya. Indonesia adalah negara rawan bencana. Indonesia masuk lintasan Ring of Fire atau Cincin Api dunia.
Indonesia memiliki gunung api terbanyak di dunia. Indonesia juga berdiri di atas tiga lempengan teraktif, yakni Lempengan Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Selain faktor alam, kultur (budaya) masyarakat Indonesia juga menjadi perhatian khusus Basarnas. Banyak musibah yang diakibatkan oleh kesalahan manusia (human error). Mulai dari kebakaran, kebocoran gas beracun, kecelakaan di jalan raya dan kereta api, hingga aksi terorisme. ”Yang pasti, persoalan yang dihadapi Basarnas ke depan semakin kompleks, Basarnas harus mampu menunjukkan kompetensi dan dedikasinya dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan. Basarnas harus menjadi leading sector, menjadi institusi terdepan dalam musibah maupun bencana!” pungkasnya.
Share this : Share [refer to site map]
Comments {+}
Leave a Response