Taufik Kiemas: Perang di Negara Libya Bisa Picu Perang Dunia
Jakarta (GNI),- Pada hari Minggu 20 Maret 2011 kemarin, tentara Koalisi Dewan Keamanan PBB yang
dipimpin oleh Amerika Serikat menjatuhkan ratusan rudal ke komplek
kediaman Khadafi dan sekitarnya di Tripoli. Akibatnya, sebanyak 48 orang tewas
dalam serangan tersebut.Berkaitan hal itu, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa
telah menyatakan, menyesalkan penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan
persoalan di Negara Libya. Melihat apa yang terjadi di Libya tersebut, Ketua MPR RI Taufik Kiemas menilai, bahwa intervensi dari negara-negara besar lebih didasari permasalahan minyak bumi.
Taufik berargumen bahwa bila memang Amerika Serikat, Prancis, Inggris, berniat membantu, mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama saat terjadi konflik di negara Zimbabwe, Rwanda atau Somalia.
"Perang di Libya ialah murni masalah minyak. Mengapa mereka tidak melakukannya saat di Zimbabwe, Rwanda atau Somalia?," ujarnya saat diwawancarai wartawan di Gedung DPR, Selasa (22/03/2011).
Taufik menambahkan apabila keadaan perebutan minyak ini terus berlanjut, bukan tak mungkin dunia bakal bergolak. "Kalau begini terus bisa jadi Perang Dunia III," katanya.
Hal Senada diungkapkan, Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq, bahwa Pemerintah Indonesia mesti menyatakan sikap tegasnya. "Kita harus bisa menjaga agar Libya ini tidak menjadi Irak kedua," ujar Mahfudz di DPR RI, Jakarta, Selasa (22/03/2011).
Menurut Mahfudz, tetap harus diwaspadai ada agenda lain terlepas dari kepentingan-kepentingan beberapa negara yang melakukan serangan ke Libya untuk bisa menahan rezim Khadafi agar tidak melakukan kekejaman terhadap rakyatnya sendiri.
"Tidak ada suatu operasi militer barat yang dilakukan itu gratis. pengalaman di beberapa negara sejenis sudah terjadi," kata dia.
Seperti diketahui, lanjut Mahfudz, Libya dikenal juga sebagai negara dengan kekayaan alam berupa sumber minyak yang berlimpah. "Salah satu kekuatan Libya adalah kekayaan sumber daya minyak. Ini yang harus dicermati," kata Mahfudz.Share this : Share [refer to site map]

Comments {+}
Leave a Response