Banjir Bandang di Garut Rugi Ratusan Miliar
GARUT – Banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah daerah Garut Selatan, Kabupaten Garut, diperkirakanb kerugian mencapai ratusan miliar.
Bencana banjir bandang Jumat (6/5) lalu itu membuat seluruh aspek di enam kecamatan mengalami kerusakan parah. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut Zatzat Munajat memperkirakan kerugian ini merupakan jumlah kerusakan di sektor ekonomi, infrastruktur fisik, jaringan air mineral, listrik, sektor pertanian, aksesibilitas jalan, dan jembatan penghubung, hingga sektor peternakan. “Saya belum bisa memastikan berapa jumlah kerugiannya, karena sampai saat ini pendataan oleh sejumlah dinas teknis masih terus dilakukan.
Meski belum pasti, perkiraan bisa mencapai lebih dari ratusan miliar,”ujarnya kemarin. Dia mengungkapkan, di sektor pertanian saja bencana itu telah merusak lahan pertanian seluas 769 hektare. Dari jumlah itu, seluas 367 hektare lainnya merupakan areal persawahan. Sedangkan sisanya terdiri dari ladang dan kebun. Khusus untuk kerugian di areal persawahan dipastikan sangat berdampak pada tingkat kerugian produksi pangan di masa panen selanjutnya yang mencapai 1.472 ton atau setara dengan Rp4,4 miliar. “Itu baru khusus tingkat kegagalan panen.Untuk besaran biaya kerugian reklamasi sawah, pengadaan pupuk, dan pengadaan benih masih dihitung Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Pertanian Kabupaten Garut,”terangnya.
Di sektor aksesibilitas jalan penghubung, Dinas Bina Marga Kabupaten Garut baru mengajukan anggaran penanganan pembukaan jalan yang ambles dan tertutup material longsoran.Secara keseluruhan, jalan penghubung di kawa s a n Garut Selatan tertutup material longsoran sekitar 9.815 M2. “Biaya yang diajukan Dinas Bina Marga untuk mengeruk tanah satu meter kubik mencapai Rp15.000. Biaya itu sudah termasuk solar dan upah operator. Bila dijumlah, biaya pengerukan saja mencapai Rp147.225.000, ini belum termasuk untuk memperbaiki jalan,”jelas Zatzat. Selain untuk membuka jalan, Dinas Bina Marga Garut juga memerlukan biaya pembuatan konstruksi penahan jembatan yang rusak.
Untuk satu unit jembatan,biaya pembuatan konstruksi penahan ini paling besar bisa menelan biaya Rp250 juta. “Dari laporan yang masuk ke posko, jumlah jembatan di kawasan Garut Selatan yang terputus mencapai 39 unit,” katanya. Beberapa jaringan saluran air bersih paling parah kerusakannya terjadi di kawasan Kecamatan Pameungpeuk. Di kecamatan ini, sebanyak 6.629 warga mengalami kekurangan air bersih selama dua hari yakni Sabtu (7/5) dan kemarin. Berdasarkan laporan sementara Posko Utama Penanganan Bencana, jumlah rumah warga di enam kecamatan kawasan Garut Selatan yang mengalami kerusakan mencapai 2.097 unit.
Rumah-rumah ini tersebar di Kecamatan Pameungpeuk, Cisompet, Cibalong, Mekarmukti, Cikelet, dan Pakenjeng. “Untuk kerusakan infrastruktur bangunan lain seperti sekolah secara keseluruhan sebanyak 5 unit, untuk tempat peribadatan yang rusak sebanyak 33 unit, dan bangunan kantor pemerintahan berjumlah 3 unit,”sebutnya. Beberapa infrastruktur lain yang mengalami kerusakan di Garut Selatan sebanyak 11 saluran irigasi dengan total kerusakan sepanjang 2 km, dua unit pasar tradisional, dan sejumlah kolam ikan warga. Bencana ini pastinya juga berimbas pada warga Garut Selatan sebanyak 2.742 kepala keluarga (KK) atau sekitar 11.244 jiwa.
Perinciannya, 6.629 jiwa di Kecamatan Pameungpeuk, 1.494 jiwa di Kecamatan Cisompet, 953 jiwa di Kecamatan Cibalong, 9 jiwa di Kecamatan Mekarmukti, 2.118 jiwa di Kecamatan Cikelet, serta 41 jiwa di Kecamatan Pakenjeng. Hingga kemarin, data di Posko Utama Penanganan Bencana mencatat 10 korban tewas, 5 orang hilang,dan enam dirawat akibat mengalami luka berat. Sementara itu, Dandim 0611 Garut yang juga pemegang Komando Posko Penanganan Bencana Letkol Arm Edy Yusnandar mengatakan, pihaknya tetap melakukan pencarian korban yang masih hilang.“Kita masih terkonsenterasi pada korban hilang.
Share this : Share [refer to site map]
Comments {+}
Leave a Response