MTs Asih Putera Cimahi Utamakan Kualitas Pembelajaran Siswa
Cimahi, (Global)- Madrasah Tsanawiyah (MTs) Asih Putera Cimahi, yang berlokasi di Jln Cihanjuang No 199 Kota Cimahi, yang berdiri sejak tahun 2001, saat ini menjadi salah satu MTs model dan favorit di Cimahi dan Bandung Barat, pola yang diterapkan di sekolah ini mengacu pada perpaduan antara system pembelajaran madrasah dan sekolah modern sesuai visi MTs Asih Putera “Menjadi Madrasah tingkat Internasional yang modern, kompetitif, dan Islami”, sementara kualitas pembelajaran tetap dinomorsatukan.
Hal demikian menurut Manajer (Kepala Sekolah), MTs Asih Putera Cimahi, Rudi Haryanto, S.Si., kepada “Global”, di ruang kerjanya, beberapa waktu yang lalu, sebagai wujud tanggung jawab sosial dan moralitas Madrasah kepada masyarakat, dengan mengubah image dan paradigma baru bahwa lembaga pendidikan madrasah juga kalau dikemas dan dikelola dengan manajemen modern akan menghasilkan lulusan yang berkualitas, bahkan bisa bersaing dengan lulusan SMP/MTs lain yang sudah lebih dulu berkiprah dan berprestasi.
Dikatakan Rudi, pola pembelajaran yang selama ini diterapkan MTs Asih Putera Cimahi terbukti dapat meminimalisir dampak negative yang ditimbulkan arus modernisasi yang merambah ke berbagai sektor, termasuk anak-anak muda belia setingkat SMP/MTs dengan adrenalin dan energi yang begitu tinggi, perlu penyaluran sesuai minat, kemauan dan kemampuan siswa.
Hal demikian menurut Rudi, sudah dibuktikan di lembaga ini, parameternya dengan mudah terlihat, misalnya dari segi akademis siswa dalam setiap Ujian Nasional (UN) selalu lulus 100 %, kemudian prestasi lain baik akademis/non akademis terlihat dengan selalu meraih prestasi dengan predikat juara, dibuktikan dengan seabreg piala, piagam, vandal serta bentuk penghargaan lainnya.
“Kami tidak bermaksud sombong atau ria, tapi ini satu bukti yang ditunjukkan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa lembaga Madrasah juga jika dikelola dengan serius dan sungguh-sungguh akan menghasilkan lulusan yang berkualitas pula, jadi jangan memandang sebelah mata kehadiran lembaga madrasah ini,” Jelasnya.
Pola Pengasuhan Siswa
Dijelaskan Rudi, sampai tahun akademik 2010/2011 ini, jumlah siswa MTs Asih Putera sebanyak 295 orang (Putra/Putri), yang tersebar pada 12 rombongan belajar (Rombel), diantara kelas VII (5 kelas), kelas VIII (4 kelas), dan kelas IX (3 kelas), diasuh sekitar 35 orang guru/staf pengajar, metode belajar menggunakan system full day school, artinya siswa belajar full sehari dari Pukul 07.00 sampai 17.00 WIB.
“Fokus peningkatan kualitas pendidikan di MTs Asih Putera saat ini yang sedang kita kejar adalah ISO 9010, sebab semua aspek dinilai dengan objektif, meski kita sebenarnya sudah menyandang Akreditasi “A”, tapi belum puas jika belum mendapatkan label di atas,” Tegas Rudi.
Dijelaskan Rudi, pola pengasuhan siswa dalam system full day school (sehari penuh di sekolah, red), diakuinya tidak semudah membalikkan telapak tangan, sebab 295 siswa yang berasal dari beragam latar belakang keluarga dengan beragam karakter pula, jelas memerlukan penanganan yang khusus pula, terlebih di atas waktu normal jam sekolah biasa (Pukul 13.00), ada waktu tambahan sekitar 4 jam yang digunakan untuk memupuk jiwa sosial diantara siswa, antar siswa dengan guru, maupun dengan orang lain di dalam sekolah, diciptakan sedemikian rupa sehingga siswa merasa betah dan nyaman untuk berlama-lama berada di lingkungan sekolah.
Untuk itu, kata Asep, segala fasilitas sengaja diadakan di sini mulai dari gedung megah berlantai 5, di dalamnya dilengkapi laboratorium berbagai disiplin ilmu, perpustakaan, ruang computer, masjid, taman yang asri termasuk di dalamnya lahan parkir yang relative luas, semuanya sengaja disediakan untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar.
“Kenyataannya, tidak sedikit siswa yang enggan pulang ke rumahnya dengan alas an masih betah di sekolah, atau malah ada yang tidak mau pulang ke rumah karena di rumahpun suasananya tidak seperti di sekolah, sampai-sampai ada siswa yang “dipaksa” pulang karena memang sudah di luar jam yang sudah ditentukan sekolah,” Jelasnya.
Malah ada tidak sedikit siswa yang justru merasa lebih dekat kepada guru di sekolah daripada dengan orang tuanya sendiri di rumah, dalam arti yang positif siswa merasa nyaman dekat dengan guru karena gurupun selain bertugas mengajar, juga berposisi sebagai pengayom siswa.
Share this : Share [refer to site map]
Comments {+}
Leave a Response