MA Yapisa Tekankan Pendidikan Agama
Kab. Bandung, (GNI)- Orientasi pendidikan bermuara kepada penciptaan generasi baru yang mempunyai ilmu, hingga menghasilkan generasi baru yang handal dan bisa bermanfaat di masa yang akan datang. Hal ini lah yang mendorong para akademia, atau cendikiawan di bidang pendidikan untuk membuat wadah pendidikan yang berupa sekolahan dan pesantren atau yang lainnya. Seperti halnya MA YAPISA (Yayasan Pendidikan Islam Samsul Ma’rif), yang beralamat di Jln Neglasari no. 50 Kecamatan Cileunyi Kab.Bandung ini, berdiri dan mempunyai tujuan mencetak siswa-siswi yang mampu bersaing dalam era globalisasi, dengan kemampuan yang unggul dari berbagai ilmu, baik ilmu dunia maupun akhirat. Serta mencetak siswa-siswi yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah yang berlandasan pada akhlaqqul karimmah.
Ditinjau dari komposisi pembelajaran siswa-siswi di MA Yapisa selain dibekali Ilmu-ilmu akademik, siswa juga di bekeli dengan berbagai keterampilan yang mendasar, seperti komputer, kepekaan terhadap lingkungan, terlebih pembekalan nilai-nilai agama yang harus di tanamkan dan di amalkan di masyarakat. Ini dibuktikan dengan adanya pesantren yang sangat dominan dengan pengajian yang sangat padat yakni 1 x 3, sesudah Magrib, subuh, dan azar, ini bertujuan mengerangi waktu siswa dengan pergaulan luar yang nantinya akan merusak ahlaq, serta pembinaan dzikir dzikir oleh pimpinan pesantren. Selain itu juga siswa di anjurkan melakukan solat Dhuha yang dipimpin langsung oleh kepala sekolah dan guru-guru, tandas kepsek MA Yapisa KH. Asep Zaenal M.
Berlanjut pada sejarah Yayasan ini berdiri sudah lama, yang didirikan oleh KH A. Zaelani Dahlan, awalnya pesantren, dilanjukan MTS (Madrasah Stanawiah) baru pada tahun 1995 berdiri MA (Madrasah Aliyah) sebagai wadah pendidikan formal. Sejalan dengan waktu kini MA Yapisa mempunyai 82 siswa, dan tenaga pengajar 16 termasuk Tata Usaha, memang sekolah ini tidak besar ini di tinjau dari beberapa factor antara lain, letak geografis, dan non teknis, dan sarana dan prasarana lainnya. Dengan keadaan kondisi sekolah seperti ini, pihak sekolah tidak pernah meminta bantuan pada pemerintah, pasalnya “ kalau kita masih bisa kenapa tidak terkecuali untuk siswa karena siswa itu urusan pemerintah” tutur KH. Asep Zaenal M, kepsek MA Yapisa sekaligus pimpinan pondok pesantren dan sekertaris pengurus harian MUI Jawa Barat.
Lanjutnya meski kita tidak pernah meminta bantuan, tetapi kita tidak menghilangan bentuan yang pernah dterima untuk siswa seperti BSM (Bantuan Siswa Miskin) pada tahun 2010-2011, karena notabene siswa yang bersekolah disini yang kurang mampu secara ekonomi. Dengan faktor itulah pikah sekolah menggratiskan uang bangunan, hanya siswa berkewajiban untuk membayar baju seragam, seperti batik, dan olahraga. Meski demikian sokolah ini dilengkapi dengan berbagai extra kulikuler yang sesuai dengan bakat dan minat siswa seperti, kaligrafi, seni budaya islam yakni marawis, serta telah menghasilkan prestasi bidang akademik antara lain, siswa-siswinya masuk pada program prestasi akademik di UIN,dan UPI, serta lulusanya bisa di terima di Perguruan tinggi Negeri.
Dengan adanya hal itu maka KH. Asep Zaenal M selaku kepsek berharap, kepada orang tua lebih bertanggung jawab pada pendidikan putra putrinya, jangan sampai tejadi hal hal yang tidak di inginkan karena minimnya pendidikan, terutama pendidikan islam yang nantinya akan mengangkat derajat keluarga di masyarakat, karena pendidikan agama di nilai sangatlah penting untuk hidup lebih bertanggung jawab.
Share this : Share [refer to site map]
3:04 pm