Debit Air Waduk Saguling Menurun

Bandung Barat, (GNI)- Memasuki bulan Pebruari 2011 ini , ternyata permukaan dan debit air waduk Saguling menurun drastis, sehingga sangat berpengaruh pada kinerja operasional turbin yang dijalankan, biasanya kalau keadaan air normal yang beroperasi bisa 3 atau 4 unit sekaligus, tapi sekarang hanya 1 unit saja dengan kapasitas 175 MW. Hasil pemantauan SKU “Global” di lokasi Dam Saguling, terlihat permukaan air menurun cukup drastis, padahal pada awal bulan Pebruari tahun lalu debit air yang masuk dari aliran Sungai Citarum masih cukup untuk menggerakkan 3 unit turbin, pada Pebruari 2011 ini malah hanya 1 unit saja yang bisa digerakkan, sehingga perlu pasokan bantuan dari pembangkit listrik lain.
Hasil pemantauan GNI di lokasi Dam Saguling, terlihat permukaan air menurun cukup drastis, padahal pada awal bulan Pebruari tahun lalu debit air yang masuk dari aliran Sungai Citarum masih cukup untuk menggerakkan 3 unit turbin, pada Pebruari 2011 ini malah hanya 1 unit saja yang bisa digerakkan, sehingga perlu pasokan bantuan dari pembangkit listrik lain.
Penurunan ini, seperti diungkapkan GM PT Indonesia Power UBP Saguling, Eri Prabowo, melalui staf Humasnya, Asep Wahyudin, kemarin melalui phone sellulernya, sudah dirasakan sejak awal Pebruari ini, penurunan ini bahkan sangat mempengaruhi operasional turbin pembangkit, sehingga yang biasanya beroperasi 3-4 unit kini hanya beroperasi 1 unit saja.
“Meski demikian karena ini memakai system jaringan interkoneksi dengan pembangkit listrik lain, maka setiap kali debit air Saguling menurun, akan segera mendapat pasokan dari pembangkit listrik lain seperti PLTU Kamojang, PLTU Suralaya, dan PLTG Tanjungpriok, demikian pula kalau Saguling kelebihan pasokan, dengan segera bisa memasok ke tempat lain,” Ujarnya.
Dijelaskan, General Manajer PTIP UBP Saguling, senantiasa memantau perkembangan keadaan air Saguling, informasi akan selalu masuk terlebih komunikasi dengan Power House selalu terjalin dengan baik, apalagi jika sudah terlihat ada tanda black out, maka akan segera mendapat respons dari pembangkit listrik lain yang berada pada satu jaringan dengan PLTA Saguling ini.
Ditambahkannya, ada dampak negative dari gundulnya hutan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Citarum ini terutama pada saat kemarau tiba, air dengan cepat menguap karena kurangnya pepohonan sebagai media peresap air, akibatnya bisa ditebak permukaan waduk Saguling kalau kemarau sebentar saja langsung menurun, lumpurpun mengendap cukup tebal, kalau sudah begini gulma air semacam eceng gondok atau sampah mudah ditemui di muara atau delta Saguling, apalagi seperti diketahui Saguling adalah waduk paling hulu/awal yang menggunakan jasa dari aliran Sungai Citarum, dibandingkan PLTA Cirata dan Jatiluhur, maka Saguling lah yang paling rawan pelumpuran karena posisinya yang berada di bagian hului.
Pihak PTIP UBP Saguling juga mengajak kepada semua unsure baik dinas/instansi maupun perorangan, kalau bisa bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap hijau, terutama DAS Citarum sebagai pemasok air untuk 3 waduk besar di Jabar, agar tetap dapat terpelihara dengan baik, di bagian Share this : Share [refer to site map]
Comments {+}
Leave a Response