Pemerintah Tahun Ini Impor Sapi Daging Alokasikan 93.000 Ton
Pihaknya menyayangkan tidak ada perincian secara jelas mengenai komoditi daging sapi. Yang ada, katanya, daging kelas utama dan kelas dua.
“Ternyata jeroan pun disebut daging impor. 80% impor daging sapi berupa jeroan, seperti jantung, hati, dan sebagainya. Pangsa pasarnya untuk kalangan masyarakat menengah-bawah. Sekitar 50% terserap di Jabar," ujarnya pada Diskusi Dampak Kebijakan Impor Sapi Bakalan dan Daging Sapi Terhadap Kebijakan Pengembangan Sapi Potong di Indonesia, Selasa (1/11) di LPPM Unpad, Jalan Banda Bandung.
Di negara asalnya, harga jual jeroan-jeroan itu sangatlah murah. Itu karena penduduk negara asal jeroan itu, Australia, tidak mengonsumsinya. "Lain dengan di Indonesia. Jeroan pun menjadi konsumsi. Itu membuat harganya menjadi tinggi," kata dia.
Rochadi menuturkan, berdasarkan kajian, saat ini, kontribusi daging lokal untuk pemenuhan kebutuhan nasional sebesar 61 %. Sisanya, sebut Rochadi, sekitar 39%, masih merupakan impor. Ironisnya, saat ini, harga jual daging impor bersaing dengan komoditi lokal.
“Harga jual lokal memang lebih mahal dari impor.”
Fauzan Luthan, Direktur Budidaya Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Direktorat Budidaya Ternak Kementerian Pertanian, menambahkan, agar komoditi daging lokal dapat terus bersaing, pemerintah melakukan berbagai langkah.
Di antaranya, berupaya menekan impor, baik berupa daging, maupun sapi hidup. Fauzan meneruskan, sejauh ini, impor daging sapi memenuhi 30% kebutuhan daging dalam negeri. Tahun ini, pemerintah mengalokasikan impor sapi hidup sebanyak 321.000 ekor.

Comments {+}
Leave a Response