Bulog Naikan Harga Beras

Bandung (GNI),- Upaya peningkatan pertumbuhan perekonomian, khususnya pada konsumsi bahan pokok, yakni beras. Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) memutuskan untuk menambah atau menaikan harga pembelian beras Rp200 per kilogram di enam provinsi terhitung mulai Rabu (23/3) kemarin.
Selain itu, upaya ini juga sebagai penyerapan beras petani oleh Perum Bulog yang dipastikan lebih berdaya saing setelah BUMN tersebut memutuskan untuk menambah atau menaikan harga tersebut.
"Penyerapan beras petani selama ini terkendala disparitas harga HPP dengan harga umum di pasaran, untuk mengoptimalisasikan penenyerapan akhirnya diputuskan adanya penambahan harga Rp200 per kilogram dari HPP saat ini Rp5.060," kata Kepala Bulog Divre Jawa Barat Nasrun Armani di Bandung, baru-baru ini.
Menurut Nasrun, pemberlakuan penambahan harga beli beras oleh Perum Bulog itu hanya diberlakukan di Bulog Divre DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, Sulteng dan NTB.
Penambahan harga pembelian oleh Bulog itu khusus untuk penyerapan beras. Selama ini pembelian beras Bulog sesuai HPP senilai Rp5.060 per kilogram, maka dengan kebijakan penambahan harga Rp200 itu menjadi Rp5.260 per kilogram.
"Penambahan harga pembelian ini khusus untuk beras, sedangkan untuk gabah kering giling tetap dengan harga pembelian pemerintah," kata Nasrun.
HPP untuk gabah kering panen Rp2.640 per kilogram dan gabah kering giling Rp3.345 per kilogram. Pemerintah, kata Nasrun, tidak mengeluarkan HPP baru pada 2011 sehingga besarannya tetap sama dengan HPP 2010.
Sementara itu, penambahan harga beli beras oleh Bulog berdasarkan pengajuan dari Bulog Divre dan pemerintah daerah, khususnya di kantong-kantong utama produksi beras. Hal tersebut untuk meningkatkan penyerapan beras dan mengamankan cadangan beras daerah yang saat ini terkendala dengan harga.
"Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang digunakan oleh Bulog kan selama ini terkendala, disparitasnya sangat jauh dengan harga di pasaran yang berkisar Rp5.300 - Rp5.400 per kilogram, sehingga atas pengajuan dari daerah diputuskan penambahan harga beli Bulog," katanya.
Dengan adanya kebijakan penambahan pembelian beras di enam Divre Bulog itu, kata Nasrun, dipastikan tingkat penyerapan beras di daerah itu bisa lebih optimal, terutama pada panen raya April 2011.
"Panen raya pada tahun ini diperkirakan pendek, akhir April sudah masuk musim gadu. Namun diharapan dengan penambahan harga beli ini bisa meningkatkan penyerapan. Mitra semuanya sudah diberitahu terkait tambahan harga itu sehingga sudah mulai bisa efektif," katanya.
Namun demikian, dana tambahan pembelian beras itu sifatnya sementara. Bila kondisi penyerapan sudah maksimal dan beras di pasaran melimpah maka harga tambahan Rp200 per kilogram itu akan dicabut lagi dan dikembalikan dengan harga HPP beras Rp5.060 per kilogram.
"Bila beras sudah melimpah, maka tambahan itu dicabut. Namun jelas saat ini kebijakan tambahan dana pembelian beras itu diperlukan karena harga beras di pasaran sudah tidak bisa lagi dijangkau HPP," katanya.
Khusus di Jawa Barat, kebijakan Perum Bulog tersebut sangat membantu untuk meningkatkan penyerapan beras dari petani. Selama ini banyak mitra Bulog yang menunggu perkembangan harga karena HPP terlalu jauh dari harga umum.
"Penyerapan Maret dan April 2011 ini diperkirakan meningkat tajam, kami tidak akan kehilangan momen penyerapan saat panen raya. Mitra Bulog juga lebih bergairah dalam mengejar lokasi panen," kata Narsun yang baru dua bulan menjabat Kadivre Bulog Jabar itu.
Penambahan biaya pembelian beras oleh Bulog itu, kata dia, tidak akan berpengaruh terhadap harga beras di pasaran karena bukan sebuah kenaikan harga beras.
"Tambahan harga untuk pembelian beras ini tidak akan memicu kenaikan harga beras, berbeda bila yang naik HPP pasti berpengaruh terhadap harga beras di pasaran," katanya.
Penyerapan beras secara nasional saat ini, kata dia, sudah mencapai 200.000 ton, terdapat peningkatan dibandingkan periode sama pada 2010. Sedangkan penyerapan beras oleh Divre Jabar saat ini sebesar 12.000 ton. Sedangkan prognosa penyerapan beras Bulog Jabar pada 2011 sebesar 600.000 ton.
"April ini diperkirakan penyerapan lebih optimal, terutama di sentra padi di Pantura. Anomali cuaca sangat berpengaruh terhadap produksi beras, namun tahun ini diprediksi lebih bagus dibanding 2010," kata Kepala Bulog Divre Jabar itu menambahkan.
Sementara itu Kepala Humas Bulog Divre Jabar, Sobar Husein menyebutkan penyerapan beras dilakukan oleh tujuh Sub Divre yakni Bandung, Ciamis, Cirebon, Indramayu, Karawang, Subang dan Cianjur.

Comments {+}
Leave a Response