Popong Otje Djundjunan: Di Kancah Politik, Perempuan Indonesia Tak Kalah dari Kaum Laki-Laki
Cimahi (GNI),- Faktor pemahaman dan keluarga terdekatlah yang menjadi salahsatu penyebab utama masih minimnya keterlibatan perempuan Indonesia untuk terjun di bidang politik. Padahal, meski terbatas perundangan yang ada saat ini sudah mendukung perempuan untuk berbicara lebih banyak di kancah politik.
Menurut anggota Komisi X DPR RI Popong Otje Djundjunan, kemampuan perempuan Indonesia dalam bidang politik saat ini tidak kalah dari kaum laki-laki. “Ini terbukti di bidang lain, banyak perempuan yang kemampuannya tidak kalah dengan laki-laki,” ujarnya kepada wartawan seusai acara Pendidikan Politik Bagi Perempuan di Aula Gedung B, Pemkot Cimahi, Rabu (20/04/2011).
Kendati demikian, kata Popong, masih ada dua kendala utama yang menghambat perempuan Indonesia untuk lebih aktif di bidang politik. Selain masih munculnya kesan bahwa politik penuh dengan intrik menakutkan, larangan dari suami dan orangtua juga menjadi kendala.
Popong menegaskan, bahwa sepintar apapun seorang perempuan, tetap tidak akan bisa menunjukkan potensi mereka manakala sudah terbentur larangan suami. Belum lagi batasan mereka sebagai seorang perempuan yang tetap harus menjadi ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Di sisi lain, jika dua hal tersebut sudah tidak lagi menjadi kendala, tidak lantas bisa membuat perempuan bisa serta merta terjun dalam politik hanya bermodalkan semangat. “Tidak bisa hanya mengandalkan semangat emansipasi, tetapi membaca saja malas,” katanya.
Emansipasi, kata Popong, merupakan sebuah hasil perjuangan berat yang tidak berbeda dengan sebuah pedang bermata dua. Jika dimanfaatkan dengan tepat, dapat menjadi untaian perhiasan yang membuat seorang perempuan tampil cemerlang. Namun jika tidak disertai kemampuan, justru bisa menjadi bumerang yang menghantam diri sendiri. Untuk itu, kaum perempuan tidak boleh berhenti untuk terus mendidik diri mereka sendiri untuk menjadi insan yang kompeten di berbagai bidang, termasuk politik.
Sementara itu, salah seorang peserta yang hadir, Tuti (48) mengatakan, emansipasi memang hak perempuan yang saat ini tidak boleh lagi dibatasi oleh siapapun. Namun, perempuan sendiri tidak boleh kebablasan. “Tanpa bekal kemampuan yang mumpuni, sebaiknya jangan memaksakan diri,” ujar ibu warga Cimahi Utara yang merupakan wanita karir dan ibu dua orang anak ini.
Hal serupa diungkapkan Sumi (29). Menurut dia, perempuan harus memiliki keseimbangan kemampuan di dalam dan di luar rumah. Di rumah, perempuan harus tetap mampu menjadi istri dan ibu yang baik. Di luar, perempuan harus mampu menularkan kemampuan yang baik dalam bidang apapun mulai dari lingkungan terkecil
Share this : Share [refer to site map]
Comments {+}
Leave a Response