Hotel Lodaya Manjakan Tamu dengan Menu Makanan Setiap Hari Berubah

Kota Bandung merupakan surganya bagi para wisatawan yang haus akan kesejukan dan kenyamanan dalam berwisata. Berbagai aneka ragam di Kota Kembang sebutan tren bagi bandung itu, menawarkan berbagai cara agar menarik perhatian wisatawan. Apa saja yang ditawarkan Kota Bandung kepada para wisatawan tersebut, yakni; -wisata belanja, seperti; factory oulet, pasar modern, mall,-wisata kuliner, Hotel dan tempat-tempat lainnya. Dengan hal ini, pas waktu weekend atau liburan ruas jalan protokol Kota Bandung sesak penuh dengan berbagai flat nomor kendaraan. Hal tersebut, membuat kelabakan bagi para pengguna jalan.
Jika para wisatawan lelah setelah habis mengelilingi Kota Bandung, pas jika mampir ke Jln. Lodaya No. 38 Bandung, disitu ada salah satu tempat penginapan (hotel) yang referesentatif dan juga menyuguhkan para tamu dengan menu makanan setiap harinya berubah. Bukan hanya menunya setiap hari berubah, tapi tidak kalah ketinggalan makanan pun sangat nikmat dan lezat..Di jamin pokoknya 100% halal.
Menurut Owner Hotel Lodaya, H. Momon Abdurohman, bahwa dirinya membangun hotel ini, setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai PNS Propinsi Jawa Barat kurang lebih 5 tahun yang lalu. "Bukan hanya hotel saja yang saya garap, tetapi bisnis lain pun dilakoni; seperti; Catering, wisma, Lembaga Pendidikan Perhotelan, Travel, Laundry. Dan kesesemuanya itu, merupakan satu group dari Bayem 11."Katanya kepada GNI, ketika ditemui di Hotel Lodaya, baru-baru ini.
Kenapa hotel ini dinamakan nama Lodaya, menurut H. Momon, berdasarkan kepada nama jalan. "Pas kebetulan saja, hotelnya berada diarea jalan. Lodaya, makanya saya berinisiatif menamakan hotel tersebut, dengan nama itu."Ujar Ketua PHRI Kota Bandung ini.
Yang menjadi banyak pertanyaan bagi "GNI", yakni, didepan receptionis ada tulisan "Tamu tidak boleh membawa pasangan, selain muhrimnya". Hal ini jadi grereget "GNI" menanyakan secara langsung tulisan tersebut, secara spontan H. Momon menjawab, hal tersebut dilakukan, upaya mencegah hal-hal yang tidak dinginkan. "Kami ingin melakukan bisnis ini, dengan barokah dan halal."
Memang melakukan upaya itu, dijelaskan H. Momon, pihaknya menunggu hasilnya sampai 2 tahun lamanya. Tetapi seiring waktu berjalan, para tamu pun mulai berdatangan. "Kami hanya punya keyakinan, bahwa namanya rezeki takan kemana. Yang terpenting kita niatnya aja."
Masih ada hotel-hotel melakukan diluar itu, kata H. Momon, pihaknya terserah kepada mereka. "Walaupun saya sebagai Ketua PHRI, tetapi tidak bisa secara gegabah melakukan intervensi lain-lain kepada mereka. Saya hanya bisa memberikan 'warning' dan juga secara persuasif."Ujarnya.
Keinginannya ini, lanjut H. Momon, dirinya menyesesuaikan dengan program Kota Bandung yang meninginkan Kota Agamis. "Makanya wajar, jika saya berkeinginan hotel-hotel yang ada di bandung nanti menjadi hotel yang agamis."Harapnya.
Share this : Share [refer to site map]

Comments {+}
Leave a Response