Moel Soenarko Belajar Seni dengan "Otodidak"
Karya, Rasa, dan Cipta merupakan tiga unsur yang ada dalam seni. Seni merupakan kegiatan bagi seorang insan manusia dalam mengekspresikan kemampuannya, dalam mengolah karyanya, apakah dengan; gerak, lisan, maupun tulisan. Dan seni tidak dapat dipungkiri bahwa kedudukanya merupakan karunia dan hidayah dari sang pencipta.
Seperti yang dialami oleh sesosok perempuan Kelahiran Banjarmasin, 29 Maret 1941, yakni Moel Soenarko. Ia mengerti seni lukis secara ‘otodidak’ , bahkan datangnya secara tiba-tiba..Semenjak di tahun 1998 yang lalu ia mencoba memberanikan untuk tampil, dan mengikuti berbagai ajang pameran.
Dengan bakat yang dimilikinya itu, Moel Soenarko, mencoba berguru kepada seorang pelukis, yang mempunyai nama Sambodja. Dari situlah, ia mencoba memberanikan diri untuk selalu tampil. Alhasil, ia bisa mengikuti berbagai ajang pameran, seperti di kota; Malang, Jakarta dan Kota kelahirannya, yakni Banjarmasin.
Tahun 2003 merupakan tahun keberkahan buat Moel Soenarko, karena apa ? Sebab, pada waktu itu, ia bisa menggelar pameran tunggal hasil karyanya, di Puri Art Gallery Malang, dan pada tahun 2011 ini, ia pun melakukan hal yang sama, yakni menggelar pameran tunggal di GaleriKita Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat.
Oleh sebab itu, dengan memiliki keinginan dan melakukan produktifitas yang tinggi, Moel Soenarko dapat menjelajahi alam dengan ekspresi serta estetisnya melalui berbagai karyanya, seperti; Lukisan, Grafis, Drawing, Batik, Sulam, Rajut, juga Puisi.
Dan dari kemampuan itulah sosok perempuan ini pun, tidak bersifat ujub ataupun sombong. Malahan hal ini, dijadikan sebuah perenungan bagi dirinya. Seperti motto hidupnya, “Aku berkarya maka Aku ada”.
Komentar Moel Soenarko dari berbagai seniman
Sosok Moel Soenarko tersebut, menjadi bahan perhatian dari tokoh seniman lain, seperti apayang terlontar dari mulut mereka, sebut saja, Aminudin TH. Siregar, Kurator dan Direktur Galeri Soemardja ITB, bahwa seorang Moel Soenarko sesungguhnya ‘menyimpang’ dari pakem naturalism. Ia seakan-akan sedang meladani anjuran S. Sudjono untuk “tidak melukis dari sudut yang secara alamiah sudah indah” atau apayang kemudian disebut sebagai “artistieke plekken’ lokasi atau tempat yang memang sudah bagus. Oleh karena itu, lanskap Moel tidak semata berhenti pada soal keindahan. Lanskap-lanskap itu ia dengan meluruhkan aspek pelukis, memori masa kecil, harapan-harapan, satrisme social sampai yang sinkal.
Sementara itu, pendapat berbeda terlontar dari mulut Aming D Rachaman, Budayawan yang juga host curator GalerKita Disparbud Jabar, bahwa sosok Moel merupakan perupa juga ia menulis banyak puisi. Apa yang ia tatap, ia hayati sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya. Maka apapun yang ia temui, ia menjawabnya dengan ungkapan rasa melalui karya rupa dan puisi. Moel ‘waktu dan karyanya’ adalah upaya terus-menerus berdialog dengan alam dan sang pencipta-Nya.
Beda lagi dengan pendapat yang terlontar dari mulut Djuli Djatiprambudi, Dosen dan Penulis Seni Rupa dari ITB, bahwa sosok Moel, dia memang tidak dimaknai sebagai perempuan yang sering dikonstruksikan di ranah sosial sebagai subordinasi laki-laki. Melalui dunia seni rupa yang mulai dia lakono sejak dekade 1990an. Dia ingan memerdekakan dirinya mencari sesuatu yang otentik bagi makna hidupnya. Bagi Moel, pekerjaan perempuan kali pertama adalah mengurus rumah tangga, mendampingi suami, dan mendidik anak hingga sukses. Selebihnya, setelah urusan pokok itu terlewati dengan baik, yaitu mencari uang representasi demi eksetensinya sebagai perempuan, yang mandiri, bermartabat, dan bermakna…
Share this : Share [refer to site map]
Comments {+}
Leave a Response